Wednesday, November 16, 2011

Minggu yang kosong

Pada awalnya adalah kosong, kekosongan hidup melanda diriku di minggu sore itu. Menjelajah dunia maya, menonton film, membaca berita, semua dijalani tanpa ada semangat dalam diri. Adalah suasana kosong yang akan mengakhiri akhir pekan minggu ini. Sampai di mana daku menemukan suatu semangat untuk bergerak, mengusik kekosongan yang ada. Inipun setelah ajakan bertubi-tubi dari sang isteri untuk keluar dari keadaan yang membelenggu hidup kami di minggu sore ini. Panas terik di siang itupun memudar berganti angin bersepoi-ria mengelus dingin menerpa wajah.


Helm yang baru


Dan bergeraklah kami menuju ke tanpa arah, sampai pada ketika kami terkungkung di dalam lift ke lantai dasar. "Marilah kita beli helm utk bersepeda" , itu ajakku kepada sang isteri di dalam lift dan diapun menyetujuinya. Langkah demi langkah, berjalanlah kami ke toko sepeda terdekat dari rumah. Tak berapa lama selepas 15 menit perjalanan, sampai lah kami di toko sepeda tersebut.


Tanpa ekspresi yang mendalam ku pandangi sejenak seluruh isi toko yang ada, dari satu rak ke rak lainnya. Padahal isi hatiku ingin berontak memborong seluruh isi toko. Mulai dari sadel, helm, busana bersepeda sampai sepeda itu sendiri, semuanya cukup lengkap tersedia di toko ini. Akhirnya terpilihlah helm mungil nan menawan yang akan melengkapi pasangan menawan lagi rupawan yang bersepeda. Satu berwarna hitam dan satu lagi berwarna putih, sangatlah serasi dipandang mata.


Semangat dan kembali kosong


Tak lama sesudah berbelanja di toko sepeda, hati langsung tergelitik untuk mencoba helm sepeda yang baru. Layaknya seperti anak kecil, langkah menuju rumah pun diperlebar dan dipercepat demi kepuasan mencoba barang yang baru dibeli.


Sesampainya di rumah, pengatur lingkar kepala di setel agar sesuai dengan lingkar kepala pengguna, pengatur pengaman lainnya pun di atur agar pengguna helm manjadi aman dan nyaman dalam memakainya. Sepedapun dipersiapkan, kondisi angin di dalam ban diperiksa, kondisi rantai dan laju roda juga diperiksa. Semua diperiksa agar selamat di dalam perjalanan. Dan akhirnya segalanya dalam keadaan siap menuju ke tempat untuk menyenangkan hati di akhir pekan, sambil bersepeda dan menjajal helm yang baru. Udara pun seakan berkawan mengajak kita utk bersukaria.


Kamipun kembali memasuki lift menuju ke lantai dasar, tentunya dengan semangat yang baru dan mengebu. Lift pun seakan bersahabat, perjalanan yg sebelumnya begitu membelenggu, sekarang seakan secepat kilat tak terasa. Angin segarpun menyambut kami bak pasang pengantin memasuki pelaminan agung. Namun itu tak berlangsung lama, ketika kesegaran itu menjadi berlebihan dengan bersimbahnya derai rintik hujan membasahi bumi. Segala persiapan menjadi hampa tak berujung, ketakutan akan kekosongan sedikit demi sedikit menghampiri kami kembali.


Dengan harapan hampa, kami kembali ke tempat dimana kami mencoba keluar daripadanya. Dari kosong, kami menjadi kosong lagi. Kembali kepada habitat asal : menjelajah dunia maya, menonton film, membaca berita, semua dijalani tanpa ada semangat dalam diri.


Dan Dia pun mendengarkan



Hujan pun semakin lama, semakin menunjukkan kekuasaannya. Seakan ia berseru dengan lantang "Inilah aku wahai manusia, nikmati daku dalam kekosonganmu. Biar kubuai dikau dalam nuansa basahku. Nikmati daku, terlelaplah dalam mimpi soremu yang abadi." Dan kutatapi layar kaca di depanku, tampilan cerita demi cerita melintas di mataku. Kutatapi sang isteri, mulai sibuk untuk menggosok sebakul baju hasil jemuran minggu ini. "Huhhhhh ... Seandainya kami dapat bersepeda dan menikmati akhir minggu ini dengan sedikit keceriaan. Huhhhhh ... Semoga Sang Hujan cepat berlalu", demikian gemuruh pikiranku saat itu walau mataku tetap menatapi bagian-bagian yang ada di depanku.


Tiga puluh menit berlalu dan akhirnya seperti ada jawab dari kegusaran dan mungkin bisa disebut 'doa singkat'-ku tadi. Rintik hujanpun sedikit demi sedikit berlalu dan berhenti, seakan mereka mengerti keinginan anak manusia untuk bergembira di akhir minggu ini.


Memulai suatu perjalanan


"Yayyyyyyy ... Terima kasih Sang Hujan, Terima kasih Om Tuhan", demikian pekik daku melihat suasana berganti. Hujan berlalu dan yang tersisa sekarang adalah suasana cerah dengan selapis udara dingin. "Ini saatnya yang tepat untuk bersuka-ria di akhir pekan."


Maka meluncurlah kami dengan sepeda kesayangan kami, Bima dan Srikandi. Kali ini rute baru yang akan kami tempuh : Yishun Park Connector, Canberra Park Connector, Woodlands Avenue 12 Park Connector, Ulu Sembawang Park Connector, Mandai Park Connector, Khatib Bongsu Park Connector dan kembali ke Yishun Park Connector. Kesemua ini merupakan jalur bersepeda yang ada di daerah utara Singapura. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat di alamat berikut ini :





Kenangan bersepeda


Bersepeda di Singapura, bagi daku adalah kerja yang menyenangkan. Aktifitas ini sudah dijalani oleh saya semenjak kecil, ketika sepeda pertamaku diberikan oleh kedua orang tuaku. Teringat jelas bahwa sepeda pertamaku ini merupakan hadiah yang diberikan sehabis di khitan dahulu bersama hadiah lainnya, tas sekolah 'Echolac'.


Rute yang paling jauh yang daku tempuh waktu SD dahulu dan terbilang heboh adalah dari daerah tempat tinggal saya yang kedua di daerah Teluk Gong Jakarta Utara ke daerah Krekot Jakarta Pusat, ke tempat tinggal saya yang pertama. Masih daku ingat, ini merupakan perjalanan bertualang yang terbilang nekat karena tanpa ijin orang tua. Bersepeda dengan hanya insting anak kecil tanpa peta ataupun GPS.


Selepas itu bersepeda merupakan bagian dari hidup daku, bersepeda ke Monas, bersepeda ke sekolah. Bersepeda banyak membawa kenangan indah, bahkan bersepeda terkadang mengingatkan daku pada kenangan yang tidak indah.


Pernah daku bersepeda dengan kawan SD daku di tanah lapang di gereja selepas pulang sekolah, seingat daku begitu gembiranya dia dengan sepeda BMXnya pada hari itu. Tak disangka itu merupakan kegembiraan dia yang terakhir, sebab dia diberitakan meninggal dunia keesokan harinya. "Selamat jalan, kawanku ! Semoga dikau tetap ceria bergowes di alam sana."


Gowes dan Hidup


Kembali dengan gowesan daku di akhir minggu ini. Daku dan sang isteri bergowes ria dengan rute Yishun Park Connector, yang merupakan rute yang cukup mengasyikan. Selain rute ini di bawah rel MRT, rute ini merupakan rute yang terbaru sepanjang 3,2 km dan dihiasi taman yang asri. Demikian juga dengan Canberra Park Connector yang hanya sepanjang 1.6 km. Walau Park Connector ini melalui daerah industri, mata dan suasana bersepeda tetap terjaga dengan jalur yang bersih dan tanaman di pinggir jalur.


Selepas setengah perjalanan di Canberra Park Connector, kami berdua berbelok ke kanan menyusuri Sungei Sembawang. Daerah yang kecil sepanjang sungai ini, termasuk bagian habitat burung yang ada di Singapura. Ini dapat dilihat dari berbagai ragam burung yang ada di sini, yang daku perhatikan ada sekitar lebih dari 5 sampai 10 jenis burung yang ada di sini. Itupun belum termasuk burung si Akhew yang pacaran di sini.


Dalam perjalanan sebelumnya, daku dan isteriku mendapatkan bonus dari perjalanan ke tempat ini. Yaitu tepat di kolong jembatan, kami dihibur oleh permainan suling oleh seorang kakek. Permainan yang apik dan menarik. Nada-nada sendu-pilu dan terkadang riang dimainkan olehnya. Suatu arti tersendiri bagi yang melantunkan dan yang mendengarkan lagu si kakek tersebut.


Selepas bagian kecil dari Sungei Sembawang, kami melalui jalur yang terpanjang dan cukup membosankan (Woodlands Avenua 12 Park Connector). Ini dikarenakan jalur yang cukup panjang dengan profil yang agak naik, sehingga gowesanpun harus tetap ada sepanjang rute ini. Untunglah kondisi jalan tidak melulu lurus, sehingga perjalanan tidak terlalu melelahkan. Kegembiraan terbangkitkan lagi setelah kami memasuki Ulu Sembawang Park Connector, rute yang cukup singkat ini sangat mengesankan. Melewati bagian kecil dari hutan, perkebunan dan peternakan yang ada di Singapura, serasa kami kembali ke daerah pedesaaan. Aroma pohon dan rumput yang basah, suara angsa dikejauhan, rerimbunan pohon disekeliling. Semuanya membuat hati dan pikiran menjadi sejuk, walau harus melewati dua tanjakan yang cukup melelahkan. Semua lelah terbayar lebih ketika melihat keindahan alam yang ada di rute ini.


Rute terakhir yang lumayan panjang adalah Mandai Park Connector, rute ini sejauh 5,0 km. Setengah dari rute ini melalui daerah Mandai yang merupakan daerah cagar alam terbesar di Singapura, juga merupakan tempat penampungan air hujan. Singapura mempunyai beberapa penampungan air hujan dalam rangka swasembada air tawar dan proyek kebanggaannya adalah proyek bendungan Marina Barrage. Diharapkan dengan adanya proyek ini, Singapura dapat mempunyai tambahan penampungan air tawar & bisa terbebas dari air pasang yang menggenangi beberapa daerah rendah di Singapura.





Mandai dan Jatoh


Melewati rute Mandai Park Connector, daku di buai dengan hijaunya pemandangan. Hijaunya pepohonan, hijaunya rerumputan, hingga hijaunya lumut di sepanjang jalur bersepeda. Yuppp, hijaunya lumut. Ini merupakan suatu cobaan besar jika melalui rute ini, terlebih daerah ini bagian dari hutan lindung yang menjadikan suasana yang sangat cocok untuk berkembangbiak lumut-lumut yang lucu nan imut-imut.


Di jalan dengan kemiringan naik sekitar 5 hingga 10 derajat, gowesanpun diharapkan mencengkram kuat pada jalur sepeda. Tapi malang tak dapat ditolak, untungpun tak dapat diraih. Akhirnya daku dengan bobot yang mungil ini gedubrak juga, jatoh disekitar km 10 dan km 11. Dengan bantingan miring dan melintir ke kanan, kutahan bobot badan dengan siku kanan daku yang konon sekuat Mas Gatotkoco, demi menjaga helm yang baru daku beli dari goresan beton plus lumut.


Walau nyeri sedikit di siku dan di pantat, gengsi tetap dijaga kehormatannya. Dengan sedikit mesem dan kedipan Amitha Bachan, sang isteri terlihat agak khawatir ... Entah dengan keadaan daku atau keadaan helm baruku. Tawaran untuk beristirahat pun segera disambut hangat oleh daku, beristirahat dan memandang danau yang lumayan indah di iringi semilir angin sejuk.


Perjalanan bersepedapun mendekati akhirnya, terutama setelah kembali ke jalur Yishun Park Connector. Melewati bagian yang terlewati setiap harinya, bagian yang begitu dikenal nyata. Dan pada awal perjalanan di awali oleh hujan, maka pada bagian akhirpun di akhiri dengan hujan. Untung saja kami sudah mendekati rumah kami, tempat berteduh kami.

Seperti hidup, bersepeda juga mungkin sama hakikatnya. Semua gelisah, semua semangat, semua kesan baik ataupun buruk, haruslah diselipkan rasa syukur atas segala rahmat & berkat yang diberikan oleh Sang Khalik


Singapura, medio November 2011. Tag : gowes101 , bercerita